Rabu, 28 Mei 2014

menulis berita


Jalan Rusak, Pengguna Jalan Terganggu
Oleh : Luciana Lidya Sari

Bengkulu (26/05), dampak kerusakan jalan semakin meresahkan warga Bengkulu, khusunya disepanjang area sekitar Sawah Lebar hingga Kebun Tebeng. Pemerintah harusnya cepat tanggap menyikapi hal ini. Kerusakan yang terjadi di jalan pusat kota sangat menghawatirkan bagi para pengendara sepeda motor. Misalnya di area depan TK Tunas Harapan Sawah Lebar, jalan rusak berkrikil serta membentuk lobang yang cukup besar. Lobang di tengah jalan tersebut akan membentuk kubangan ketika hujan turun, dan akan membuat debu tebal ketika hari panas, itu berarti jalan yang rusak bukan hanya menyusahkan pengendara saja, tetapi juga warga yang berada di sekita area tersebut.
Walaupun untuk daerah Kebun Tebeng kerusakan jalan telah mulai ditangani, akan tetapi pihak kontraktor pekerja belum menanganinya dengan cepat. Jalan rusak di depan Toko Sutik Kebun Tebeng hingga saat ini pengerjaannya baru sampai pada tahap pengerukkan dan pelapisan dengan kerikil. Itu berarti penanganan belum selesai secara utuh, malah membuat jalan semakin berbahaya untuk dilalui.
Dinas pekerja umum kota Bengkulu harusnya segera menangani masalah kerusakan yang terjadi di jalanan pusat kota Bengkulu, agar tidak menimbulkan masalah bagi pengguna jalan kedepannya.

surat pembaca


Bengkulu, 21 Mei 2014
Yth Redaksi Koran Rakyat Bengkulu
Jalan P Natadirja Km 6,5 Kota Bengkulu
Assalamualaikum Wr. Wb.
Jalan bergelombang dan membentuk kubangan di jalanan pusat kota sekitar sawah lebar sangat memprihatinkan. Jalanan yang berlubang ini telah banyak memakan korban kecelakaan terlebih lagi ketika musim hujan jalanan ini di genangi air sehingga membuat pengendara sepeda motor dan mobil tidak mengetahui adanya kubangan lubang sehingga menimbulkan kecelakaan. Belum lagi ketika musim kemarau jalanan berlubang ini membuat debu jalanan dan membuat kesal para warga yang memilki ruko di sekitar pinggiran jalan sepanjang sawah lebar. Warga yang mempunyai shoeroom mobil di sekitar sawah lebar mengeluh bahwa mobil-mobil yang di pajang di rukonyo dihinggapi debu tebal ketika musim kemarau datang, selain itu jalanan berlobang ini juga membuat jengkel pedagang makanan karena debu yang berterbangan membuat makanan-makanan yang dijualnya kemasukan debu sehingga tidak higienis lagi.
Jalanan berlobang ini terletak di sepanjang jalan sawah lebar hingga kebun tebeng. Selain jalan berlobang, jalanan yang ditambal juga menghawatirkan pengguna jalanan khususnya pengendara sepeda motor. Misalnya Di Jalan Cendana depan SMP Negeri 2 Kota Bengkulu yang merupakan jalanan pusat kota akan tetapi tidak layak untuk dilalui karena jalanan yang tidak rata akibat tampalan, serta jalan berlobang. Selain itu, jalanan rusak parah juga ditemui di jalan sawah lebar, yaitu di depan TK Tunas Harapan. Meski pemerintah telah mulai melakukan perbaikan jalan, akan tetapi perbaikan ini tampaknya terbengkalai, karena pekerja yang tidak cepat menangani perbaikan jalan. Jalan di dekat Gereja Kebun Tebeng yang mulai di perbaiki tidak juga rampung hingga saat ini. Jalan yang sudah dir auk dan ditimbun kerikil dibiarkan terbengkalai tanpa pengaspalan, hal ini lebih membahayakan bagi pengguna jalan. Pemerintah harusnya cepat dan ligat dalam penanganan kerusakan jalanan pusat kota agar tidak kembali menelan korban jiwa.

Kepala Dinas Pekerja Umum Kota Bengkulu hendaknya segera memperbaiki jalanan yang rusak.

Wassalamualaikum Wr. Wb


Luciana Lidya Sari
Bengkulu



puisi cinta


Tapi Duluu…
Oleh luciana

Kita pernah bersama,
Melewati hari-hari indah,
Menghabiskan waktu,
Mengukir beribu kenangan,
Untuk sebuah cerita dimasa depan,

Kau pernah bertanya tentang cinta
Kepadaku,
Aku bingung, haruskah itu yang kau
Pertanyakan??
Kita sudah tak lagi berjalan dalam satu karpet merah,
Tapi,,,
Kenapa kau terus mempertanyakannya??
Tak bisakah kau pergi  saja seolah kita
Tidak pernah memahat sebuah patung
Yang bernama kenangan??,
Ahh,, jangan terlalu mendramatisir keadaan,
Sejujurnya kau terlalu berlebihan.

Jangan menangis,,
Kau bukanlah actor,
Cukup pergi jauh dan menghilang dari pandanganku,
Tapi tidak dari hatiku,
Urusan hati biar aku yang atur,
Kau tak perlu datang lagi..

Kita memang pernah bersama,
Kita memang pernah melewati hari-hari indah,
Kita memang pernah menghabiskan waktu,
Kita memang pernah mengukir beribu kenangan…
Tapi itu dulu…
Jauh-jauh hari sebelum hari ini…
Dan hari ini tidaklah pernah sama dengan hari kemarin… tapi duluu…

keep calm





keep calm.jpg
KEEP
CALM
AND

SAVE THE CHILDREN

Minggu, 04 Agustus 2013

kritik jurnalistik


Novel Saman Sebagai Pelopor Feminisme di Indonesia

Novel Saman karya Ayu Utami menceritakan tokoh Wisanggeni, memiliki seorang ibu yang berhubungan dengan makhluk lain yang tidak dapat dilihat sampai kemudian ibunya hamil dan tanpa bisa diterima nalar manusi bayi diperut sang ibupun hilang entah kemana, begitu pun dengan kehamilan keduanya dan pada kehamilan ketiga ibunya sempat melahirkan seorang anak perempuan namun, pada akhirnya meninggal dalam waktu 3 hari setelah kelahiran. Beberapa tahun kemudian keluarga wisanggeni bermigrasi ke Jakarta. Pada usia 26 tahun Wis memilih kembali ke Prabumulih untuk mengabdikan diri sebagai pastor paroki parid di sana dan kemudian bertemu dengan seorang anak perempuan bernama Upi yang memliki kelainan dan hidup miskin sehingga membuat Wis tertarik hatinya untuk membantu keluarga Upi dan masyarakat sekitar. Namun, Wis bernasib malang, ia kemudian ditangkap dan siksa oleh petugas. Dan berkat pertolongan mistis ia mampu melarikan diri.
Cerita kemudian berlanjut ke Laila, Shakuntala, Yasmin dan Cok Gita yang hidup di luar dari budaya-budaya timur yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dan adat istiadat. Mereka melakukan hubungan antara sesama perempuan dan melakukan hubungan seks bebas diluar nikah. Mereka berempat berteman sejak kecil

Novel ini sangat berani dalam menceritakan berbagai pengalaman seks dari sang tokoh sehingga melahirkan pandangan miring terhadap Ayu Utami (pengarang). Namun yang cenderung mendominasi dari novel ini adalah rasa simpati Wisanggeni yang bermula dari pertemuannya dengan Upi yang kemudian membangkitkan semangat Wis untuk memberikan kehidupan yang lebih layak kepada Upi dan keluarganya. Novel ini juga berbau mistitisme dan feminisme. Adanya aliran mistitisme (gaib) di dalam novel ini karena seperti yang kita ketahui bahwa novel ini menceritakan sang Ibu yang menjalin hubungan dengan makhluk lain yang tidak terlihat sosoknya hingga membuat sang Ibu hamil. Pada kehamilan yang pertamanya, bayi dalam kandungan Ibu hilang tanpa sempat dilahirkan, benar-benar kejadian yang diluar nalar manusia. Begitu juga dengan kelahiran keduanya, anak di dalam kandungan Ibu kembali hilang tanpa sempat dilahirkan. Dan pada kehamilan ketiganya bayi sang Ibu meninggal dihari ketiga tanpa diketahui penyebabnya. Hal-hal yang terjadi di kehidupan Ibu Wisanggeni sangat diluar nalar apabila diukur dari segi logika manusia. Mungkin memang benar hal itu pernah terjadi di daerah sekitar Prabumulih ataupun daerah lainnya akan tetapi apabila dibandingkan dengan kehidupan dimasa sekarang mana mungkin hal seperti itu terjadi lagi karena pemikiran masyarakat sekarang yang berpedoman pada logika dan sesuai kenyataan.

 Selanjutnya yaitu aliran feminisme yang terkandung di dalam novel ini karena di dalamnya menceritakan tentang perasaan tidak adil atas tugas yang diemban oleh para wanita timur yang harus menjaga keperawananya sampai ia menikah. Walaupun masyarakat Indonesia cukup toleran dalam hubungan seks di luar pernikahan maupun pelacuran, akan tetapi dalam wacana publik, sterotip-sterotip dan mitos bahwa perempuan harus pasif. Jadi posisi perempuan menjadi serba salah dan itulah yang coba diangkat oleh Ayu Utami dalm novel Saman. Karena itulah disini para tokoh menentang itu semua dengan melakukan hubungan seks diluar nikah dengan sembarang lelaki. Bukan hanya itu, novel ini juga menceritakan hubungan yang tidak semestinya anatar para wanita yang sering disebut lesbi atau orang-orang Perancis menyebutnya femme. Bila diukur dari segi masyarakat Indonesia yang sampai sekarang masih menjunjung nilai-nilai budaya timur yang memegang teguh nilai kesopanan dan keagamaan, prilaku perempuan di dalam novel ini benar-benar bertolak belakang. Tapi inilah yang menjadi daya tarik para penikmat sastra karena novel ini sangat berani mengungkapkan cerita-cerita seks yang ganas sehingga hanya pembaca yang sudah benar-benar dewasa saja yang bisa membacanya karena apabila novel ini di berikan pada anak-anak yang dibawah umur bisa jadi merusak kepribadian anak bangsa dan mengeksplor apa yang dibacanya melalui prilaku sehari-hari. Memang benar novel ini menggadang-gadangkan tentang gender, hak yang dirasa tidak adil bagi wanita, emansipasi dan sebagainya yang berhubungan dengan wanita. Akan tetapi perlu diketahui bahwa sebagai wanita itulah tugas yang diemban setiap wanita : menjaga kehormatanannya sampai ia menemukan seseorang yang sanggup menikahinya. Bukan hanya Islam, agama lain pun mengajarkan hal yang sama. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan, pastilah setiap agama mengajarkan kebaikkan. Dan novel ini sangat berlebihan dalam menggalangkan emansipasi wanita. Emansipasi yang digambarkan dalam novel ini sudah kebalasan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tertanam sejak zaman dahulu di Negara Indonesia ini.

Terlepas dari segi mistitisme dan feminismenya, novel ini memberika amanat yang bisa dipetik oleh setiap pembaca melalui tokoh Wisanggeni. Tidak semua orang mau dan mampu menolong orang lain hingga mengorbankan waktu, tenaga, nyawa, kebebesan hingga mencoreng nama baiknya dimasyarakat dan akhirnya membuat ia harus meninggalkan jubah kepastorannya. Itulah yang berusaha di ungkapakan pengarang melalui tokoh Wisanggeni.  Apabila para penikmat sastra mampu memetik pesan yang berusaha disampaikan pengarang, bisa jadi itu membuat para penikmat sastra mampu mengapresiasikannya kedalam kehidupan sehari-hari dengan mengimplementasikan kebaikan-kebaikan yang ada dalam novel ini. Dan dari novel ini kita dapat belajar, karena belajar berarti mengubah pemikiran dan tindakan orang dari negatif menjadi positif, bukan sebaiknya. Apabila tujuan kita dari membaca karya satra adalah untuk belajar, maka kita akan mampu menarik pelajaran-pelajaran dari sana. Dan apabila tujuan kita hanya untuk menikmati sebuah karya sastra maka bisa jadi kita tidak akan mendapatkan pelajaran dari cerita-cerita yang berusaha diungkapkan pengarang.